Sektor decentralized finance (DeFi), yang dulunya dipuji karena janjinya tentang sistem tanpa kepercayaan dan otonomi finansial, kini menghadapi paradoks: ancaman terbesar terhadap keamanannya bukan lagi pada kerentanan kode, melainkan pada psikologi manusia. Serangan phishing dan rekayasa sosial melonjak hingga mendominasi 56,5% dari seluruh pelanggaran DeFi pada tahun 2025, melampaui eksploitasi teknis yang sebelumnya mendefinisikan profil risiko sektor ini. Pergeseran ini menyoroti kerentanan kritis dalam etos DeFi—ketergantungannya pada kewaspadaan pengguna di lingkungan di mana penyerang mengeksploitasi bias kognitif dan ketidaktahuan digital. Bagi investor, implikasinya sangat jelas: portofolio semakin terekspos pada risiko off-chain yang tidak dapat sepenuhnya diatasi oleh audit smart contract mana pun.
Dampak finansial dari phishing di DeFi sangat mencengangkan. Hanya dalam paruh pertama tahun 2025, kerugian akibat penipuan phishing melebihi $410 juta, dengan insiden individu seperti serangan Venus Protocol yang menguras $13,5 juta dari dompet satu pengguna. Serangan-serangan ini sering memanfaatkan konten yang dihasilkan AI untuk meniru platform resmi, mencapai tingkat klik sebesar 54%—jauh lebih tinggi dibandingkan metode phishing tradisional. Dalam insiden Venus, misalnya, seorang pengguna menyetujui transaksi berbahaya setelah tertipu oleh antarmuka palsu, yang memicu penurunan 6% pada token asli protokol tersebut dan penurunan 9,2% pada Total Value Locked (TVL) BNB Chain. Efek berantai seperti ini menyoroti bahwa phishing bukan lagi ancaman kecil, melainkan risiko sistemik terhadap stabilitas DeFi.
Kenaikan phishing mencerminkan evolusi yang lebih luas dalam kejahatan siber. Menurut laporan dari Kroll, phishing dan rekayasa sosial kini menyumbang 80% dari seluruh insiden keamanan di ranah kripto. Tren ini didorong oleh kemudahan relatif dalam melakukan serangan phishing dibandingkan mengeksploitasi kerentanan teknis yang kompleks. Penyerang kini tidak perlu lagi membongkar smart contract; mereka hanya perlu menipu pengguna agar menyerahkan private key atau menandatangani transaksi berbahaya. Seperti yang dicatat dalam sebuah analisis, “Desain DeFi yang berpusat pada pengguna secara tidak sengaja telah menciptakan ladang madu bagi rekayasa sosial, di mana titik terlemah adalah operator manusianya”.
Bagi investor, pelajarannya jelas: manajemen risiko portofolio kini harus mencakup perlindungan off-chain yang kuat. Berikut tiga langkah yang dapat diambil:
Gunakan Solusi Kustodi Kelas Institusi: Investor ritel harus memprioritaskan dompet non-kustodial dengan autentikasi multi-faktor (MFA) yang tahan phishing dan mempertimbangkan layanan kustodi kelas institusi untuk kepemilikan besar. Hardware wallet, yang mengisolasi private key dari lingkungan online, tetap menjadi pilar utama pertahanan.
Pentingkan Edukasi Pengguna: Baik platform maupun investor harus berinvestasi dalam pelatihan untuk mengenali upaya phishing. Ini termasuk memverifikasi nama domain, meneliti detail transaksi, dan menghindari komunikasi yang tidak diminta. Seperti yang ditunjukkan dalam kasus Venus Protocol, bahkan kelengahan sesaat dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar.
Tuntut Transparansi Tata Kelola: Investor sebaiknya memilih protokol yang secara proaktif menangani risiko phishing melalui peningkatan tata kelola. Misalnya, beberapa proyek DeFi menerapkan hardfork untuk meningkatkan keamanan dompet dan proses verifikasi pengguna.
Revolusi DeFi menjanjikan penghapusan perantara, namun juga mengungkap rapuhnya pengambilan keputusan manusia dalam sistem tanpa kepercayaan. Serangan phishing, yang kini menjadi penyebab utama pelanggaran DeFi, menunjukkan bahwa kerentanan terbesar sektor ini bukan pada kodenya, melainkan pada penggunanya. Bagi investor, langkah ke depan membutuhkan fokus ganda: memanfaatkan perlindungan teknologi sekaligus membangun budaya kewaspadaan. Seperti pepatah, “Your keys, your coins”—namun di tahun 2025, mungkin saatnya menambahkan, “Your attention, your security.”